Berkunjung ke Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Rawamangun, Jakarta

Berkunjung ke Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Rawamangun, Jakarta

Tiga bus yang ditumpangi mahaswa dari UNSUR Cianjur tiba di kantor Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Rawamangun Jakarta pada pukul 09.30 WIB pada hari Kamis, 14/11/2019. .Para penyambut pun mempersilakan mahasiswa dan dosen  mendampinginya  masuk ke aula Gedung M. Tabrani, setelah mengisi daftar hadir, lalu mendapat seminar kid dan konsumsi dari  pihak kantor tsb.  

Di aula ini, para petugas yang ditunjuk oleh Kantor Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan melaksanakan acara penerimaan tamu  seraya mengucapkan  selamat datang di Kompleks ini.  

Setelah menyiapkan diri, Pembawa Acara  langsung membuka pertemuan itu . Saat itu, yang ditugaskan oleh Kepala Kantor Badan Bahasa adalah Endah Nur Fatimah, S.Pd.sebagai penyuluh Bahasa dan Ebah Suhaebah, M.Hum. juga penyuluh Bahasa.

Tim Tamu dipersilahkan oleh pembawa acara untuk menyampaikan sambutannya terlebih dahulu. Sebagai orang dituakan dalam rombongan itu dan Mantan Wakil Dekan III FKIP UNSUR, Drs. H. A. M Suganda, M.Pd. ditunjuk sebagai wakil dari rombongan Tamu.  Beliau mengucapkan rasa syukur-Nya  tiba dengan selamat dan tak lupa setelah itu beliau memperkenalkan anggota tim UNSUR yang dibawanya yakni 8 dosen, adalah Budiarto, M.Pd (wakil Dekan III), Aan Hasanah, M.Pd., (Sekretaris MPBI), Daud Pamungkas, M.Pd., Dra. Hj. Yeni Suryani, M.Pd, Dadan Wahyudin, M.Pd., Mia Fatimatul Munsi, M.Pd, Febri Marindra, M.Pd. dan 2 tenaga kependidikan yaitu Syam Rahmat dan Widi Nur Aulia. Jumlah suluruhnya ada 101 orang terdiri dari 10 pendamping, 21 mahasiswa MPBI, dan 70 mahasiswa PBSI FKIP  datang ke Jakarta ini.

Kemudian, beliau juga mengatakan bahwa di Badan Bahasa ini,  ada seorang alumnus dari  UNSUR Cianjur yang bernama Arbi Sanit, M.Pd.  Dia berasal dari  PBSI dan MPBI UNSUR. Semasa menjadi mahasiswa, dia dikenal aktivis  dan berprestasi di bidang yang digelutinya yakni bidang sastra. Semoga di kantor ini, alumnus tsb bisa mengembangkan diri dan berkarier produktif lebih di sini. (Arbi Sanit berdiri -red)

Seperti diketahui, Cianjur merupakan kota kecil di Jawa Barat yang berpenduduk sekitar 2,3 juta dan di sana ada beberapa perguruan tinggi yakni 2 universitas, 3 akademi, dan kurang lebih 12 sekolah tinggi yang ada  di Kopertis atau Kopertais.  Oleh karena itu.  animo masyarakat Cianjur untuk melanjutkan  studi di perguruan tinggi cukup tinggi. .

"Kunjungan ke kantor Badan Pengembangan Bahasa ini selalu rutin dilakukan oleh mahasiswa PBSI FKIP dan MPBI UNSUR untuk mengetahui informasi yang lebih dekat dan lebih kekinian terhadap permasalahan di bidang pengembangan bahasa. Selanjutnya, kami memohon kepada kedua narasumber untuk menjelaskan apa saja perlu diketahui oleh mahasiswa tsb.dan hal apa saja perlu dilakukan" ujarnya sambil menutup sambutannya..  

Giliran Penyuluh Bahasa  ini  Menjelaskan

Giliran dari kantor Badan Bahasa yang diwakili oleh Endah Nur Fatimah, S.Pd. dan Ebah Suhaebah, M.Hum. Menurut Endah yang berkesempatan sebagai narasumber pertama, instansi Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan memiliki visi yaitu terwujudnya insan berkarakter dan jati diri bangsa melalui bahasa dan sastra Indonesia. Kemudian penyuluh bahasa kelahiran Purworejo ini memaparkan misi yang diembannya.

Lebih lanjut, Endah mengupas sejarah tentang poin ketiga Sumpah Pemuda 1928 yakni "Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia". Lalu mengapa, pada saat itu tidak menjadikan bahasa Jawa (sekitar 47,8%) atau bahasa Sunda (14,5%) sebagai bahasa nasional? Nah, di sinilah,keunikannya, justru bahasa Melayu dijadikan cikal bahasa nasional. Padahal populasi etnis Melayu (1928) hanya 4,9% dari penduduk Indonesia.

Penyuluh dari UNY 2013 ini mengatakan bahwa bahasa Melayu dapat dipakai sebagai bahasa nasional akibat penyebaran meluas dan dianggap sebagai bahasa lingua-franca. Pendapat Tabrani mengatakan saat itu sebagai bahasa pergaulan dan konsep kebangsaan merujuk pada kondisi nyata keberagaman manusia masih bersifat kedaerahan dan kesukuan.  Pada akhirnya, Kemendikbud telah mengubah nama gedung di Kantor Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan yang sebelumnya bernama Samudra menjadi Moh. Tabrani.

Lebih lanjut, menyinggung tentang 9 prioritas dikerjakan Badan Bahasa yakni mengupas tentang pengumpulan pengayaan kosa kata, UKBI, pengajar BIPA ke luar negeri, Gerakan Literasi Nasional, Konservasi dan Revitalisasi Bahasa Daerah, Peningkatan Kemampuan Berbahasa Indonesia, Penguatan Mitra Kebahasaan dan Kesustraan, dan terakhir Layaran Kebahasaan dan Kesusastraan. Di akhirnya, Endah memberi kesimpulan bahwa "Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing". 

Pemateri kedua, yaitu  Ebah Suhaebah, M. Hum sebagai Penyuluh Bahasa. Pengalaman kerjanya di Badan Pengembangan Bahasa adalah  sebagai peneliti bahasa Indonesia, Beliau juga sebagai Penyunting Bahasa. Beliau pernah menjadi pendamping bahasa dalam penyusunan RUU di DPR/MPR/DPD RI  atau Ahli bahasa di Kepolisian, dan sebagainya.

Untuk merangsang motivasi kebahasaan dan kesusastraannya, Ebah memberikan 3 buah buku hasil karyanya kepada mahassiwa yakni  buku KOHESI DALAM TAJUK RENCANA. Buku itu berasal dari tesis beliau teliti.  Seorang mahasiswa dapat buku tsb karena dapat menjelaskan dalam   bahasa Indonesia ada bahasa lisan dan bahasa tulisan. Bahasa lisan adanya lapal dan bahasa tulisan yaitu dengan adanya ejaan.   Hingga pertanyaan ketiga, apa perbedaan  kata  "Setiap" dan "masing-masing"? Berikan contohnya?  Ini juga dapat dijawab oleh mahasiswa.

Selanjutnya, penyuluh kelahiran Sumedang tahun 1962 ini memaparkan bahwa di dalam bahasa Indonesia ini ragam bahasa bakunya, seperti : kata bis ditulis dalam bahasa baku bahasa Indonesia ditulis bus, Ijin – izin, non komedian, non-guru, antar kota, dan sebagainya.

Waktu jualah yang membatasinya hingga acara dikembalikan kepada Pembawa Acara.  Pembawa Acara mengatakan bahwa ada acara penyerahan cinderamata dari PBSI FKIP UNSUR yang diserahkan oleh H. A. M Suganda kepada Ebah Suaebah (pihak Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan).. Kedua, dari Prodi MPBI UNSUR cinderamata  akan diserahkan oleh wakil Dekan III, Budiarto, M.Pd, kepada Endah Nur Fatimah, S.Pd. .  Setelah itu  acara foto bersama dengan narasumber, dosen, dan mahasiswa dilaksanakan..

Setelah Salat dhuhur dan makan, Rombongan dari UNSUR meninggalkan Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Rawamangun Jakarta, berlanjut ke Instansi lainnya yaitu Perpusnas RI di Jl Merdeka Selatan dan TIM Cikini. (d/Redkasi)


Berita Lainnya